Rabu, 20 Januari 2010

kenapa kita tertinggal ??

Bangsa ini sudah mulai kehilangan asset berharganya. Dimana sebuah bangsa yang besar adalah yang memperhatikan kaum wanita dan anak - anak, apabila kaum wanitanya baik, maka baik pula moralitas bangsa itu, dan anak – anak yang lahir dari rahim merekapun akan menjadi para pemuda yang tangguh, yang siap melanjutkan estafet pembangunan bangsa tersebut. Namun pemandangan yang memprihatinkan tergambar pada perjalanan kehidupan bangsa Indonesia yang sangat kita cintai ini. Betapa tidak, generasi muda yang diharapkan akan menjadi penerus perjuangan bangsa, kini mengalami kebobrokan moral yang luar biasa. Fakta membuktikan :

Survey terakhir, 63% remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seks diluar nikah
Setiap tahunnya sbanyak 2,3 juta kasus aborsi terjadi di Indonesia, didominasi oleh usia remaja (14 – 22 tahun )
Persentase tawuran dan kebut – kebutan (ngetrack) dikalangan remaja semakin meningkat
Sebanyak 20% remaja meninggal akibat bunuh diri, sebagian motifnya adalah karena putus cinta
54% dari pengidap penyakit HIV AIDS di Indonesia adalah remaja
Dunia kedokteran melaporkan bahwa sekitar 70% penyalahgunaan narkotika adalah dikalangan remaja, dan tidak sedikit korban yang meninggal akibat overdosis.

Inilah yang menyebabkan kita selalu tertinggal oleh negara – negara tetangga. Jangan sampai kita menjadi bagian dari angka kebobrokan diatas. Jagalah baik – baik perjalanan hidup kita! Jangan sampai hidup kita berakhir diujung celurit ketika sedang tawuran, atau tabrakan saat kebut – kebutan, atau akibat overdosis, atau akibat penyakit kelamin,yang mencoreng nama baik keluarga. Na’uzdubillahi min dzalik.

Satu lagi penyebab ketertinggalan bangsa ini adalah sangat minimnya minat untuk membaca. Data terakhir pada tahun 1999 menunjukkan bahwa skala perbandingannya adalah 1 : 43, artinya dari setiap 43 orang hanya ada 1 orang saja yang membaca. Sementara Malaysia adalah 1 : 8 dan Singapura 1 : 2 ditahun yang sama.

Sementara itu bila kita mengamati perkembangan teknologi dimasa sekarang, ada sebuah jejaring sosial yang sangat mendunia, diminati mulai dari kalangan remaja hingga orang tua, tidak memandang perbedaan status sosial, baik kalangan atas , menengah, maupun kalangan bawah. Jejaring tersebut dinamakan ‘Facebook’ sebuah situs pertemanan di dunia maya, dan ini didirikan oleh seorang pemuda bernama Mark Zuckerberg, lulusan Harvard University. Pada saat ini, pertanyaan yang tepat untuk bangsa ini adalah, Adakah pemuda Indonesia sepertinya?. Rasanya tidak mungkin kita menorehkan prestasi yang sama, apalagi ditengah krisis multidemensi yang melanda negeri ini, khususnya para pemuda.


Di Jepang, seorang pelajar yang hendak pergi kesekolah walaupun hanya 15 menit saja di kereta dia pakai untuk membaca. Sedangkan di Indonesia, dari Jakarta ke Bandung selama sekitar 2 jam dipakai untuk tidur. Jauh sekali memang perbandingannya. Ya, percaya atau tidak, itulah keadaan bangsa kita saat ini. Allah berfirman di dalam Al – Qur’an surat Ar – Ra’d ayat 11 yang artinya “ … Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”


Wahai generasi penerus! Dimanakah pemuda – pemuda seperti Ibrahim di negeri ini ? yang tanpa ragu melangkahkan kakinya kedalam kobaran api yang membara, demi membuktikan hakikat dari sebuah kebenaran. Karena pemuda itu adalah Ismail yang rela mempersembahkan nyawanya kepada Tuhan dihari idul Qurban, pemuda itu adalah Yusuf yang mampu menolak ajakan berzina dari seorang wanita cantik, pemuda itu adalah Ayyub yang tetap kokoh walau ditimpa berbagai penyakit, pemuda itu adalah Syu’aib yang air matanya habis dipakai untuk menangis bertahun – tahun karena tidak kuat lagi menahan kerinduan ingin berjumpa dengan Tuhannya hingga mengalami kebutaan. Pemuda itu adalah Musa yang dengan gagah perkasa meluluh lantahkan keangkuhan Fir’awn, pemuda itu adalah Daud yang mampu menumbangkan Jalut seorang raksasa yang sangat zhalim, pemuda itu adalah Sulaiman yang tidak terlena dan hanyut dengan gemerlapnya harta kekayaan duniawi, dan pemuda itu adalah Muhammad yang semua gerak – geriknya adalah pesona keindahan bagi setiap orang yang memandangnya.


Negeri ini menantikan hadirnya pemuda – pemuda seperti mereka, yang akan menggantikan para pendahulunya.

Mungkinkah itu kita?

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda